SULTENG

Penanganan Bencana Sulawesi Tengah perlu dengarkan Suara Anak

PALU – Pasca gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah tiga bulan silam, UNICEF Yayasan Plan International Indonesia (YPII), Wahana Visi Indonesia (WVI) dan Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC), telah melakukan konsultasi yang bertemakan “Dengarkan Suara Anak” yang dilakukan kepada 130 anak perempuan dan 114 anak laki-laki, pada akhir bulan November 2018 lalu di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala.

Konsultasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memahami kebutuhan serta masalah paling mendesak melalui perspektif anak yang nantinya dapat menjadi rekomendasi kepada pemerintah dan pelaku respon kemanusiaan untuk penanganan bencana yang lebih sensitif terhadap kebutuhan anak.

Dari hasil Konsultasi tersebut, mengharuskan perbaikan di sejumlah aspek pembangunan yang ada di tiga daerah yang terdampak bencana tersebut, harus mendengarkan suara anak, karena Suara anak pun penting didengar untuk bisa menggali apa yang menjadi kebutuhan mereka.

Suara anak merupakan kunci utama dalam sebuah tahapan proses pembangunan, Hal ini menjadi salah satu wujud nyata partisipasi anak, agar kebutuhan mereka bisa terpenuhi.

“Anak penyintas bencana harus didengar dan ditindaklanjuti pendapatnya karena memiliki pengalaman dan kebutuhan yang berbeda,” ujar Hari Sadewo, mewakili empat organisasi yang terlibat dalam konsultasi anak.

Hari Sudewo menambahkan, Kami juga terus berusaha untuk menempatkan suara anak-anak dalam upaya kerja yang kami lakukan, serta memastikan beragam kebutuhan mereka terpenuhi di usia tumbuh kembangnya, terutama dalam situasi bencana dan tanggap darurat. Dengan berkoordinasi bersama pemerintah Indonesia, masing-masing organisasi telah memanfaatkan keterampilan dan pengalaman lokal yang dimiliki untuk memberikan bantuan keselamatan hidup kepada anak-anak dan keluarga yang terkena dampak gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah pada 28 September 2018. Saat ini setelah beralih ke fase respons Transisi Darurat, kami percaya bahwa kami juga perlu mendengarkan perspektif anak-anak dan memastikan kebutuhan mereka yang unik dan spesifik dapat terpenuhi, untuk membantu masa pemulihan mereka, katanya.

Dalam konsultasi yang bertemakan “Dengarkan Suara Anak” tersebut, juga dilaksanakan dengan metode pengumpulan data yang partisipatif dan ramah anak, melalui diskusi kelompok terfokus (FGD), yaitu semi-structured interview, diskusi kelompok mendalam, transect walk, menggambar, dan bermain peran, Melalui metode itu, anak-anak bisa dengan leluasa menyampaikan kebutuhan dan pandangan mereka terhadap penanganan bencana gempa dan tsunami di PaSiGala.

Hal ini sejalan dengan komitmen Standar Kemanusiaan Inti dalam Hal Kualitas dan Akuntabilitas (Core Humanitarian Standard, komitmen 3 dan komitmen 4).

“Mendengar suara anak adalah kebutuhan. karena mereka masih belum terkontaminasi orang dewasa. Sehingga kita tahu apa yang mereka butuhkan adalah nyata. Oleh karena itu penting memastikan anak-anak mengekspresikan pandangan mereka, didengar dan ditanggapi dengan serius, terutama pasca bencana seperti saat ini. Semoga ini bisa menjadi masukan bagi kami di tengah penyusunan rencana aksi untuk rehabilitasi dan rekonstruksi sehingga bisa memastikan hak anak-anak terpenuhi dengan baik,” ujar Hidayat Lamakarate, Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tengah.

Melalui konsultasi “Dengarkan Suara Anak”, anak-anak rindu kembali ke rutinitas mereka yang seperti biasanya, seperti berSekolah hal itu merupakan kegiatan paling dirindukan oleh anak-anak sebagai indikasi rutinitas normal mereka, Sekolah juga merupakan pusat kehidupan sosial anak-anak dan sebagai tempat di mana mereka bertemu dengan teman-temannya.

“Sekarang kami bisa berjumpa dengan teman-teman di sekolah, hal ini sangat membantu kami,” kata para remaja putri, 15, Palu.

Selain itu, anak-anak juga memberikan masukan pentingnya pelibatan anak-anak remaja dalam perencanaan dan kegiatan penanganan bencana. Terkait dengan kegiatan penanganan bencana yang saat ini sedang berlangsung di PaSiGala, anak-anak berpendapat bahwa bantuan langsung tunai/voucher bisa menjawab kebutuhan mereka dan penyintas lainnya.

Di samping itu, upaya dan mekanisme melawan berita simpang siur atau “hoax” dalam konteks penanganan bencana menjadi penting. UNICEF, YPII, WVI dan YSTC sebagai koalisasi organisasi fokus anak, mendukung penuh upaya partisipasi dari Provinsi Sulawesi Tengah dalam menganalisis, berbagi hasil, dan memberikan rekomendasi penilaian yang telah dilakukan, yang bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi nonpemerintah, nyata diperlukan untuk memastikan adanya koordinasi yang baik dalam membentuk kebijakan dan rekomendasi intervensi dalam melakukan respons tanggap bencana saat ini dan di masa yang akan datang.

Siaran Pers : UNICEF, Yayasan Plan International Indonesia (YPII), Wahana Visi Indonesia (WVI) dan Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top